Jumat, 01 Februari 2013

PROGRAM PEMBINAAN JANGKA MENENGAH OLAHRAGA GULAT
PERIODE TAHUN 2011 – 2014

I.    PENDAHULUAN
Olahraga Gulat adalah olahraga beladiri kuno, kemungkinan sudah ada sekitar tahun 2050 sebelum Masehi. Mula-mula dilakukan oleh bangsa Sumeria kemudian berkembang di Mesir. Hal ini terbukti dengan banyaknya peninggalan sejarah di Mesir yang mengungkapkan bahwa di Mesir pada sekitar 1 atau  2 abad sebelum Masehi sudah terdapat olahraga gulat. Lukisan  dinding pada makam di Benni Hassan misalnya. Di sana banyak terdapat gambar-gambar orang gulat. Di Benni Hassan sendiri ada sekitar 40 lukisan, di makam Bahti III ada sekitar 219, dan di makam Setti ada sekitar 122 lukisan. Dari gambar-gambar tersebut sudah nampak adanya teknik–teknik dalam gulat, seperti teknik berdiri pada posisi yang kokoh dan teknik serangan kaki. Di Yunani gulat berkembang sangat pesat bahkan termasuk satu di antara tiga hal yang sangat dijunjung tinggi di Yunani ialah Ilmu Pengetahuan, Seni dan Olahraga yang dalam hal ini adalah gulat. Dari perkembangan di Yunani inilah selama berabad-abad, gulat masuk dalam olahraga dunia dan dipertandingkan dalam event olahraga dunia. ( Petrov, 1987 : 20-22 )
Pengertian gulat pada mulanya adalah suatu kegiatan yang menggunakan tenaga dan dimungkinkan mengandung pengertian suatu perkelahian atau pertarungan yang sangat sengit untuk mengalahkan lawan dengan saling memukul, menendang, mencekik bahkan menggigit. Sedangkan gulat sebagai alat bela diri dilakukan manusia pada saat orang itu terjepit dan tidak memiliki senjata, satu-satunya alat bela diri adalah dengan cara bergulat. (PGSI, 1985 : 50).
Olahraga gulat masuk di Indonesia pada tahun 1961 oleh pendiri Sekolah Beladiri yang berkedudukan di Bandung dengan pendiri Bp. BATLING ONG pemilik SCHOOL OF SELF DEFENCE INDONESIA (SOSI). Sebelum olahraga gulat mandiri dalam wadah organisasi PERSATUAN GULAT SELURUH INDONESIA olahraga gulat menjadi satu dengan olahraga tinju dalam wadah PERTIGU (Persatuan Tinju dan Gulat).
Di Jawa Tengah dirintis oleh Pendidikan Jasmani Daerah Militer VII Dipenogoro (JASDAM VII DIP) dipelopori oleh Kapten TNI SRI SUNARDI dan Drs. TEMUHADI guru olahraga pada SEKOLAH GURU PENDIDIKAN JASMANI (SGPD) yang berkedudukan di Semarang.
Di Kabupaten Brebes dirintis pemasalanya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan c.q. Sub Binmudora pada tahun 2002 dan dihimpun dalam wadah Persatuan Gulat Seluruh Indonesia Cabang Brebes pada tahun 2003. Di Brebes olahraga beladiri gulat dipelopori dan dibina oleh Bpk DASIRUN, BA. Beliau adalah purnawirawan POLRI. Di awal perkembangannya tempat latihan di aula SMA Negeri 2 Brebes yang di mulai dari ekstrakurikuler gulat dengan Pembina FX. Sus Haryanto dan pelatih Bpk DASIRUN, BA dengan assisten Supriyadi. Sekarang telah berkembang di SMP Negeri 3 Wanasari, SMP Negeri 3 Larangan dan SMP Negeri 1 Banjarharjo. Dengan beberapa assisten pelatihnya yaitu Dede Rusdianto, S.Pd, Sutrisno, S.Pd, Edy Suwarko, S.Pd, Serta Dodo Nugroho, S.Pd. mereka lulusan UNNES yang dibina dari gulat pada waktu masih sekolah dan masih banyak lagi yang masih berstatus sebagai mahasiswa yang apabila mereka pulang ke Brebes berbagi ilmu, tekhnik, taktik serta motivasi dalam olahraga gulat untuk kemajuan prestasi gulat Kabupaten Brebes pada khususnya dan olahraga pada umumnya.
Dalam rangka pembinaan prestasi, untuk mengukur tingkat kemampuan selama berlatih, telah diikutsertakan dalam event resmi baik ditingkat Jawa Tengah maupun Nasional. Dalam Kejuaraan Pelajar, Kejurda Yunior Kejurda Senior, yang rutin tiap tahunnya dan bahkan sudah menyumbangkan medali mulai dari PORDA JATENG TH 2005 dan PORPROV TH 2009 ( Hasil yang dicapai terdapat dalam lampiran )
Masih menempuh jalan yang panjang untuk mencapai atlet yang diperhitungkan di Jawa Tengah karena Kabupaten lain telah lebih dahulu membina dan khususnya kota besar seperti Semarang, Solo, Banyumas, Kendal, Jepara lebih maju baik potensi atlet, Pelatih dan sarana prasarana penunjangnya.
Namun kita optimis apabila dukungan dari Pemerintah , Masyarakat Kabupaten Brebes beserta sarana dan prasarana yang memadai PGSI Cabang Brebes akan dapat berprestasi lebih baik. Mengingat Bpk DASIRUN juga mantan atlet judo serta memiliki sertifikat Pelatih Judo Daerah, mengikuti Penataran Pelatih Judo Nasional maka para pegulat juga dilatih judo dalam wadah JIDAG JUDO CLUB (JJC) mulai tahun 2004 sebagai embrio berdirinya pengcab PJSI Kabupaten Brebes pada musyawarah Pengcab PGSI Kabupaten Brebes tanggal 22 Desember 2007.

II.    RUMUSAN MASALAH
1.    Bidang Organisasi
Sampai dengan saat ini PGSI Cabang Brebes sudah mulai menata organisasi yang dulu belum dapat berjalan sesuai job description, karena dulu belum banyak pengalaman dalam cabang olahraga gulat sekarang dengan berjalannya organisasi yang terus berkembang PGSI telah memiliki tenaga tenaga ahli dibidang gulat, seperti Sutrisno, S.Pd wasit Nasional dan masih aktif sebagai atlet serta melatih gulat. Dede Rudianto, S.Pd Ketua Bidang Litbang. Dan masih banyak yang lain yang berperan aktif dalam organisasi. ( Susunan kepengurusan terlampir )

2.    Pembinaan Prestasi
Dalam pembinaan prestasi PGSI Cabang Brebes telah beberapa kali mengirimkan atlet seniornya untuk mengikuti penataran pelatih yang diadakan  PGSI Provinsi  Jawa Tengah. Dan kemampuan pelatih utama PGSI sudah tidak diragukan lagi beliau adalah Bpk DASIRUN, BA. mantan atlet PON kelahiran Brebes, 9 Oktober 1941 walaupun usianya yang mendekati tujuh puluh, Dasirun tetap bugar dan enerjik dalam melatih gulat. Selama mengenyam pendidikan di Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (PGPD) Semarang, Dasirun beberapa kali memperkuat daerahnya mengikuti berbagai kejuaraan gulat tingkat nasional. Keikutseraanya pada Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak PON IV hingga PON IX Dasirun tidak pernah absen mengikuti even akbar tersebut. Beliau juga memiliki sertifikat wasit dan Penataran Pelatih Nasional.
Lelaki pensiunan Polri berpangkat Mayor yang juga mantan Kepala Desa Wanasari periode 1998-2006 memiliki cita-cita yang mulia, ingin memanfaatkan sisa hidupyang ada untuk mengabdikan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya untuk generasi muda. Aktivitasnya kini diisi dengan melatih anak didiknya yang SMA dan SMP yang terdapat ekrakurikuler gulatnya. ( Daftar nama Pelatih dan atlet terlampir ).
Mengingat Bpk DASIRUN juga mantan atlet judo serta memiliki sertifikat Pelatih Judo Daerah, mengikuti Penataran Pelatih Judo Nasional maka para pegulat juga dilatih judo dalam wadah JIDAG JUDO CLUB (JJC) mulai tahun 2004 sebagai embrio berdirinya pengcab PJSI Kabupaten Brebes pada musyawarah Pengcab PGSI Kabupaten Brebes tanggal 22 Desember 2007.
Dalam musyawarah Pengcab PGSI Kabupaten Brebes berhasil menyusun kepengurusan Pengcab PJSI Kabupaten Brebes yang berlaku mulai tahun 2008 sampai dengan 2012 ( Susunan pengurus Judo seprti yang terlampir ).
Adapun hasil kejuaraan yang diikuti klub J.J.C. mulai tahun 2004 sampai dengan 2010 seperti terlampir.

3.    Bidang Dana
Karena bidang ini belum popular apalagi tidak menjual (dipertontonkan dengan menjual tiket / karcis belum laku ) maka dana bersumber dari KONI Kabupaten Brebes.

4.    Sarana dan Prassarana
Sarana berupa gedung / aula / dojo, yang khusus belum ada sehingga masih penjam pakai tanpa sewa di SMP Negeri 3 Wanasari, SMP Negeri 3 Larangan dan SMP Negeri 1 Banjarharjo. ( Daftar Inventasis terlampir )

III.    TANTANGAN KENDALA DAN PELUANG
1.    Tantangan
Harus dapat mengikat para atlet yang telah berprestasi agar selalu ada ikatan dengan induk kecabangan yang melahirkan baik secara administrtif maupun kekeluargaan dengan cara :
a)    Mengarahkan untuk mencari sekolah / kuliah dan tempat latihan.
b)    Mengarahkan dan mencarikan pekerjaan bagi yang tidak melanjutkan pendidikan.
c)    Berusaha mendorong, membekali untuk mau berlatih dimanapun mereka berada.
d)    Mampu memasalkan olahraga ini mulai dari usia dini ( SD, SMP ).

2.    Kendala dan Peluang
a)    Usaha untuk mencukupi tempat pelatih dengan mengarahkan aktif yang telah mengikuti Kejuaraan (PORPROV) untuk menjadi asisten Pelatih.
b)    Ada usaha untuk mencukupi sarana dan prasarana terutama alat Bantu latihan (alat weight training, manican, tali panjat, spring tall, dll).]
c)    Usaha memberikan perlakuan khusus kepada mereka yang berlatih dengan uang pembinaan.
d)    Pendekatan pengurus pada sekolah / Masyarakat dalam pemasalan.
e)    Pengurus cabang dan Dinas Pendidikan bekerja sama dengan sekolah-sekolah terutama sekolah yang dekat dengan tempat latihan untuk mengirimkan siswanya berlatih bersama.
f)    Peluang yang ada pada atlet kelas gaya berat badan ringan maupun berat badan diatas 84 Kg.
g)    Sekarang PGSI Cabang Brebes termasuk atlet yang diperhitungkan oleh daerah lain.

IV.    UPAYA PENCEGAHAN MASALAH
a)    Sesuai dengan pendidikan pada umumnya bahwa pembinaan olahraga adalah untuk mencapai manusia seutuhnya yaitu pembentukan jiwa dan raga.
b)    Menyesuaikan situasi dan kondisi dengan peserta latihan.
c)    Memberikan pengertian tentang manfaat dari hasil latihan / pembimnaan,
d)    Memperbanyak jumlah tempat latihan
e)    Mengadakan penataran pelatih / juri / wasit
f)    Bekerjasama dengan guru olahraga dalam pemasalan dan pembinaan usia dini
g)    Mengarahkan atlet senior untuk menjadi pelatih , Juri / Wasit
h)    Perekkrutan pegulat putri

V.    ARAH TUJUAN SASARAN
a)    Sesuai dengan tujuan pendidikan pada umumnya bahwa pembinaan olahraga adalah untuk mencapai manusia seutuhnya yaitu pembentukan jiwa raga.
b)    Pembinaan olahraga tidak hanya untuk mencapai prestasi dilapangan hanya juga untuk mencapai prestasi kehidupan agar tercipta jiwa sportifitas yang tinggi.

VI.    VISI DAN MISI GULAT
•    MOTO    : KESATRIA DI ATAS DAN DILUAR MATRAS
•    VISI        : BERPRESTASI DISETIAP KEJUARAAN
•    MISI        :
1.   Membekali atlet untuk selalu percaya diri.
2.    Menumbuhkan sikap atlet yang selalu patuh dan taat kepada pelatih.
3.    Menciptahan suasana latihan yang disiplin.


VII.    PROGRAM KEGIATAN
          ( TERLAMPIR )

VIII.    KESIMPULAN
1)    Prestasi olahraga di Brebes khususnya gulat sudah mualai ada peningkatan ditinjau dari hasil prestasi dan bertambahnya jumlah pelatih di kabupataen Brebes.
2)    Sarana dan prasarana dinilai masih belum memadai dengan kemajuan perkembangan olahraga.
3)    Dana masih belum mencukupi sesuai kebutuhan berupa plafond atau dana terbatas/jatah.
4)    Gulat telah melaksanakan pembinaan rutin dan mendapat dukungan anggaran sesuai ketentuan, termasuk mengikuti semua kegiatan.
5)    Kelas gaya bebas gulat putri sudah mulai dipertandingkan.


IX.    SARAN
1)    Mengirimkan penataran pelatih tingkat nasional dan atau penataran wasit nasional.
2)    Dengan adanya penyusunan Program Pembinaan ini dapat terealisir dana / anggaran yang dibutuhkan.
3)    Dana / anggaran disesuaikan dengan kebutuhan yang diajukan / diperlukan.
4)    Adanya peninjauan dari pengurus KONI tentang jalannya pembinaan / latihan sesuai jadwal yang dibuat Pengcab PGSI dan setiap kegiatan mengikutio opening / clossing ceremony.
5)    Adanya penambahan anggaran untuk alokasi kejuaraan gulat putri.

X.    PENUTUP
Demikian semoga langkah dan maksud yang baik dalam Program Pembinaan Olahraga Gulat dapat dijadikan titik awal mencapai prestasi terbaik.




                                                                                                 Brebes, 08 Oktober 2010
                                                                                                 Persatuan Gulat Seluruh Indonesia
                                                                                                 Pengurus Cabang Brebes
                                                                                                 Ketua


                                                                                                 DASIRUN, BA


<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>2                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar